Tak Berkategori  

Soal APMS Sapeken Memanas, Forperkasa Vs LPK- KP

SUMENEP, (Transmadura.com) –
Soal agen penyalur minyak dan solar (APMS) di pulau Sapeken, Sumenep terus bergulir setelah pihak pemilik APMS melakukan klarifikasi. Pasalnya, Forum Peduli Rakyat Sejahtera (FORPERKASA) melakukan audiensi dengan Bagian Perekonomian Sekretariat Daerah Kabupaten (Setdakab) Sumenep, Senin (11/4/2022).

Mereka melakukan audien juga
dari perwakilan Pertamina dan Polres di ruang Rapat Graha Adhirasa, Kantor Pemerintah daerah setempat.

Perwakilan FORPERKASA Kepulauan Sapeken, Nurahmat, mengatakan, jika permohonan audiensi kepada Bagian Perekonomian itu berkaitan dengan pemantauan ketersediaan BBM dan Elpiji di Kecamatan Sapeken.

“Kami meminta penjelasan dari Bagian Perekonomian atas ditemukannya dispenser BBM yang kosong di APMS 56.694.06, pada saat pemantauan ketersediaan bahan bakar solar di Kepulauan Sapeken,” katanya.

Pihaknya menyatakan, saat audiensi pihak Pemkab membenarkan bahwa saat melakukan pemantauan di APMS Sapeken, kondisi dispenser BBM tersebut kosong.

“Tadi pihak Setdakab, Pertamina dan Kanit Pidter Polres Sumenep, semuanya mengamini bahwasanya memang ditemukan kosongnya Dispenser BBM di APMS milik H. Ardi itu,” kata Nurahmad.

Dirinya, mengklaim saat audensi, selama ini APMS 56.694.06 Sapeken, telah berulang kali tidak melakukan pengisian BBM ke dalam Dispenser sebelum adanya temuan oleh Staf Bagian Perekonomian, Pertamina serta Pidter Polres Sumenep.

“Kami juga menyampaikan saat audensi tadi, keterangan dari masyarakat dan juga dari Camat Sapeken, kalau sebelumnya APMS milik H. Ardi telah berulang kali bongkar muat BBM dari tanker di dermaga Pelabuhan Sapeken,” ujar dia.

Lebih lanjut, Nurahmat menjelaskan, juga masalah harga eceran tertinggi (HET) serta perijinan APMS 56.694.06 Sapeken yang diyakini bermasalah, turut disampaikan saat audensi yang dipimpin oleh Mustangin, pelaksana tugas (Plt) Bagian Perekonomian Setdakab Sumenep.

“Semua permasalahan kami paparkan tadi. Mulai dari harga jual APMS kepunyaan H. Ardi yang diatas HET Pertamina, dan juga perijinannya yang terindikasi banyak ketidaksesuaian. Juga kelangkaan solar yang melanda Sapeken sekarang ini juga disampaikan,” tukasnya.

Aldy Wiranto Khoirul Sekretaris FORPERKASA yang juga mahasiswa asal Kepulauan Sapeken, mengatakan,
persoalan BBM di Kepulauan Sapeken berbeda dengan permasalahan di daratan.

“Pak Mustangin tadi sempat menyamakan kosongnya BBM di Dispenser APMS di Sapeken dengan SPBU di daratan, tentunya kami menentang keras statement itu,” ucap Aldi.

Padahal, menurut dia, harusnya
lebih memahami problem BBM menjabat Plt. Kabag Perekonomian, yang juga menangani domain tentang energi di Pemkab Sumenep. “Bisa-bisanya dia mengatakan, di SPBU sini (Sumenep, red) juga biasa keterlambatan pengiriman BBM,” jelasnya.

Sebelumnya, bantahan tentang beredarnya tudingan dugaan kosongnya APMS Sapeken, dan dispenser yang tidak nyala perlu diluruskan. Pasalnya dari hasil sidak tidak ada masalah.

Hal itu disampaikan, Ketua Umum LPK – KP ( Lembaga Perlindungan Konsumen dan Kebijakan Publik ) Kab. Sumenep H. Syafiuddin, SH.,MH menyampaikan, bahwa
sidak beberapa waktu yang lalu yang dilakukan tim Pertamina yang di dampingi oleh staf ESDA, dan Kanit Pidter Polres Sumenep secara keseluruhan tidak ada masalah.

Sebab, waktu sidak berlangsung tim hanya menemukan APMS kosong dan dispenser tidak nyala.
Sebab, secara kebetulan ketika sidak berlangsung, H. Ardi pemilik APMS/pom itu sedang melayani 16 masyarakat nelayan yang mempunyai rekom resmi untuk mendapatkan solar bersubsidi.

Bahkan, tudingan itu dibantah keras soal dispenser rusak, pihaknya menegaskan itu tidak benar. Sehingga setelah diuji oleh tim pertamina saat itu diisi solar 1 drum isi 200 liter ternyata nyala.

Pemilik APMS Sapeken, H. Ardi membenarkan, jika sidak yang dilakukan oleh tim dari Pertamina yang di dampingi oleh staf ESDA Setdakab Sumenep itu adanya temuan saat kosongnya ketersediaan BBM dan tidak hidupnya dispenser.

Kabar bahwa dispenser rusak itu adalah informasi tidak benar. bahkan sisa di dispenser cukup kuota 15 hari. Sehingga pernyataannya dispenser Itu bukan rusak, tapi tidak dihidupkan, karena solar kosong dan itu sudah dibuktikan didepan tim pertamina.

(Asm/red)