banner 728x90

Apel Tahunan dan Pembukaan Pekan Perkenalan di Ponpes Modern Kutbatul -Asry

Apel Tahunan dan Pembukaan Pekan Perkenalan di Ponpes Modern Kutbatul -Asry


SUMENEP, (Transmadura.com) – Babinsa Koramil 0827/05 Lenteng Serda Nur Krianto dan Koptu Agus R menghadiri acara Apel Tahunan Pekan Perkenalan Khutbatul-Arsy Pondok Pesantren Mathlabul Ulum di lapangan Ponpes Modern Mathlabul Ulum Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep, Rabu (14/9/2022) Pagi

Dalam kegiatan apel tersebut bertindak sebagai inspektur upacara Dr KH. Imam Kodri TF.M.TH.I pengasuh pondok pesantren Modern Mathlabul Ulum.

Dalam sambutanya Dr KH. Imam Kodri TF.M.TH.I mengatakan, bahwa apel tahunan dan pembukaan pekan perkenalan khutbatul-Arsy

adalah bagian dari sunah pondok Pesantren Mathlabul Ulum dalam pandangan kiai guru dan seluruh santri kegiatan seperti ini bersifat sakral, semua warga penghuni pondok modern Mathlabul Ulum harus mengerti dan memahami.

Bagi para santri dan guru termasuk keluarganya wajib hukumnya mengerti dan memahami pondok, para wali santri dan masyarakat umum harus mengerti pondok dengan baik supaya tidak salah persepsi terhadap pondok maka dari itu nilai nilai pondok pesantren harus terus disyarkan.

Semua yang ada di pondok adalah pendidikan, apa yg dilihat didengar dan dirasakan oleh santri harus mengandung unsur pendidikan dan kegiatan ini untuk mendidik tidak mudah mengadakan kegiatan ini.”ucapnya

Para santri dan guru harus mempunyai daya dorong, daya juang, daya tahan, daya tarik dan daya kreasi, tanpa lima daya ini tak mungkin terwujud pagelaran ini, kelima daya inilah yang terintegrasi dalam setiap nilai pendidikan yang harus di tanamkan kepada santri, sehingga mereka menjadi generasi yang kuat dan tangguh, bukan generasi yang cengeng “tegas KH Imam Kodri”.

Baca Juga :   Dandim Sumenep Pimpin Acara Korps Raport Kenaikan Pangkat 18 Personel

Ada dinamika yang tinggi disertai dedikasi puncak untuk memberikan dan mempersembahkan yang terbaik yang mendidik bukan sekedar baik tapi tidak mendidik, tontonan yang menuntun tuntunan yang bisa ditonton. Apel tahunan seperti ini atau dalam bahasa umum sering disebut gelar pasukan bisa terwujud bukan sekedar dibutuhkan kemampuan mengingat, memahami, dan mengaplikasikan. Akan tetapi lebih dari itu dibutuhkan adanya kemampuan menganalisis, mengevaluasi dan mengkreasi. Ada kultur, ada struktur, ada nilai nilai, ada sistem menyatu dalam dinamika pimpin memimpin yang sholid “siap dipimpin dan siap memimpin itulah salah satu moto yang selalu didengungkan oleh anak didik disini”.

Para santri ini adalah anak yang hebat dan anak yang Mahal, mereka aset bangsa di masa depan, mereka inilah wajah wajah Indonesia masa depan, wajah wajah perekat umat dan pemimpin bangsa, pemimpin yang terdidik dengan konsep pendidikan yang komperensiv dan intregalistik. Anak yang terdidik ini insya Allah menjadi generasi yang mengerti agama sehingga menjadi pencerah umat dan bangsa.

sekarang ini banyak orang yang tidak mengerti agama tampil menjadi pencerah bangsa. Ada pula yang mengerti agama dengan baik tetapi diam saja tidak mengambil posisi menjadi pemimpin dan tidak melakukan pencerahan kepada bangsanya.

Baca Juga :   Program DD di Desa Poreh Warga Klaim Fiktif?

Untuk para santri kejarlah cita citamu setinggi tingginya, jangan puas dengan hanya menjadi orang baik saja, jadilah orang baik yang memimpin, “Ingat” orang baik harus kuat karena jika lemah maka kebaikanya tidak dapat memperbaiki. Orang baik akan membawa kemaslahatan dan sebaliknya kekuatan di tangan yang jahat akan menjadi mafsada. Oleh karenanya kebaikan dan kekuatan sebagai mana kesalehan dan kepemimpinan harus menyatu pada diri kalian “harap Dr KH. Imam Kodri TF.M.TH.I”.

Di sinilah posisioning pesantren, pesantren sebagai pabriknya Manusia, pabrik manusia masa depan pabriknya calon pemimpin bangsa, ingatlah perjuangan merebut kemerdekaan republik Indonesia dimana pesantren melalui para kiyai dan santrinya berada di garda terdepan bahkan para kiyai tampil menjadi pemimpin pergerakan melawan penjajah dalam merebut kemerdekaan. Sejarah ini tidak bisa di lupakan apalagi sampai hilang dari memori ingatan kolektif bangsa, dan itulah hutang bangsa Indonesia kepada dunia pesantren, maka watak dan sikap pesantren dari dulu sampai sekarang anti penjajah dan penjajahan, “beber Dr KH. Imam Kodri TF.M.TH.I menutup sambutannya.

(Pendim0827)