banner 728x90

Sadis! Kades Ketawang Larangan Tutup Irigasi, Petani Menjerit

Sadis! Kades Ketawang Larangan Tutup Irigasi, Petani Menjerit


SUMENEP, (Transmadura.com) – Sejumlah warga di Desa Ketawang Larangan, Kecamatan Ganding, Sumenep, Jawa Timur terancam gagal panen. Itu diduga akibat ulah Kepala Desa yang melakukan penutupan irigasi.

Informasi yang berhasil dihimpun media ini, penutupan dilakukan di Dusun Raas, Desa Ketawang Larangan. Sehingga air yang mestinya sampai di sawah warga tersumbat. Padahal, ketersediaan air sangat dibutuhkan untuk mengairi lahan pertanian warga.

“Ada sekitar 2 hektar yang memerlukan pengairan saat ini,” kata SO inisial salah satu warga setempat.

Dia mengatakan, desas desus sementara penutupan dilakukan karena alasan akan dibuat jalan baru. Padahal, tidak ada akses yang menyambung ke daerah tersebut.

“Itu hanya isu diluar. Karena sebelum ditutup tidak ada musyawarah dengan kami selaku yang juga petani disana,” jelas dia.

Baca Juga :   Menyambut Dispora Mudik, Pemkab Sumenep Menyusun Event

Pihaknya menyatakan, tindakan kepala desa dinilai sangat keterlaluan. Sebab, irigasi tersebut telah dibangun sejak puluhan tahun silam dan bukan ditanah milik Kepala atau keluarga Kepala Desa. Melainkan berada di wilayah tanah percaton (Kas Desa).

“Itu juga ada ulu banyunya, karena itu milik Pemda,” jelas dia.

Sementara itu Kepala Desa (Kades) Ketawang Larangan, Ganding Ach. Zaini membenarkan jika yang melakukan penutupan adalah dirinya.

“Bukan Pemdes (pemerintah desa), saya yang menutup itu,” katanya saat dikonfirmasi media ini.

Dia mengatakan, penutupan itu dilakukan karena akan dibuat jalan baru. Selain itu disempadan irigasi terbangun sebuah gudang. Jika tidak ditutup khawatir akan mengganggu aktifitas di dalam gudang tersebut.

“Kami sudah bicara sama dua orang, itu akan dijadikan jalan baru. Sementara irigasi akan dialihkan ke sebelah timur. Saya kira itu lebih lancar nantinya,” jelas Kades tiga periode itu.

Baca Juga :   Sidang Paripurna DPRD Sumenep Mulai Bahas Tiga Raperda

Bahkan lanjut dia, untuk mengalihkan irigasi, pihaknya siap mengeluarkan dana pribadi jika ada warga yang ingin melakukan gotong royong.

“Kalau memang warga ada yang mau mengerjakan secara gotong royong saya yang mau kasi makan, kalau tidak ada yang mau maka saya yang mau cari orang untuk mengerjakan,” jelasnya.

Apakah tetap akan dibuat jalan meski ada protes warga?, kades berkumis tipis itu mengaku tidak akan memaksakan.

“Kalau sudah tidak lagi dikasih ya tidak jadi, berarti tidak mau yang enak. Kalau saya tidak asa unsur kesengajaan melainkan akan memberikan yang terbaik bagi warga,” tegas dia.

(Asm/red)