banner 728x90
Tak Berkategori  

Proyek Lingkar Utara Terus Disoal, Pecahnya Hotmix Pemadatan Dipertanyakan


SUMENEP, (TransMadura.com) – Persoalan pekerjaan proyek jalan hotmix lingkar utara kondisinya sudah retak, bahkan terjadi penurunan (ablas) terus bergulir. Pasalnya, kondisi itu dapat sorotan dari berbagai pihak, bahwa perencanaan disinyalir asal asalan.

Rusaknya proyek jalan hotmix lingkar utara yang baru dikerjakan tepatnya Desa Kebunan, dengan nilai 15 miliar tersebut diduga ada kejanggalan dalam proses pekerjaanya.

banner 728x90

Salah satunya, disinyalir pemadatan tanah (sub grade) kurang maksimal. Di mana badan jalan yang sudah terbentuk itu dibutuhkan pemadatan terlebih dahulu.

Pemadatan bisa didatangkan dari luar, tanah asli atau tanah urugan, yang kemudian disterilkan menggunakan semen. Sehingga, menjadi tanah kokoh.

“Ini jalan baru, seharusnya pemadatannya lebih maksimal. Bahkan, jika diperlukan bisa dicampur dengan semen,” kata Hendri Kurniawan, aktifis LSM GASAK kepada media ini.

Tidak hanya itu, sambung dia, kerusakan itu bisa juga pemadatan sebelum dihampar juga tak maksimal. Di mana, sebelum dihampar agar bisa dilakukan pengecoran, agar agregat dengan asphal menyatu. Biasanya ini dilakukan setelah pemadatan pada pondasi awal. “Pemadatan yang baik akan menjadi penguat dalam pekerjaan jalan baru hotmix ini,” ujarnya.

Baca Juga :   PAD Stagnan, DPRD Sumenep Dorong Pemerintah Serius

Pihaknya merasa curiga jalan yang dibiyai APBD (Anggaran Pendapatan Belanja Daerah) ini tak maksimal dalam pemadatan. Bahkan, bisa saja dihampar tanpa proses pengecoran. “Namun, hal itu perlu dibuktikan lewat audit teknik. Sebab, jika pemadatan kokoh tak akan berpengaruh tebing yang disampingnya,” ungkapnya.

Untuk itu, pihaknya berharap agar dibuka kepada publik terkait penyebab terjadinya jalan hotmix yang rusak ini. “Sebab, jika itu karena tebing atau jurang, harusnya ambles. Meski masa pemeliharaanya silahkan diuji lewat audit teknis ini,” ucap mantan aktifis Malang ini.

Kepala Dinas PU Bina Marga Eri Susanto, membantah jika berkaitan dengan pemadatan. Sebab, sudah dilakukan pemadatan secara maksimal. “Jadi, penimbunan jalan baru itu dan kemudian dipadatkan. Jadi, pemadatannya sudah baik,” ungkapnya.

Bahkan, pihaknya mengaku, sudah meminta untuk menggali lagi agar lebih bagus. Yang jelas saat ini sudah dilakukan perbaikan atas jalan tersebut. “Saya suru gali lagi juga. Coba lihat ke lapangan biar lebih jelas seperti apa lapisannya. Termasuk pemadatannya,”tuturnya.

Baca Juga :   Penggunaan Aset Pemerintah Untuk Bangunan Gerai KDMP Harus Jelas Legalitasnya

Selain itu, lanjut Erik, pecahnya jalan hotmix itu sebab tanah gerak dan bekas galian posfat.

“Faktor tanah gerak, curah hujan di sumenep cukup tinggi, tanah juga jenuh, akhirnya aspal ada penurunan. Saya tanya ke rekanan itu lobang, lobang galian fospat sampai kedalaman 8 meter,” ucapnya

Selian itu, terjadinya penurunan hotmix atau amblas itu, kata Erik, bukan sebab pemadatan, tapi di daerah labil, namun yang penting target bisa selesai dulu panjangannya. “Kalau daerah itu memang kurang padat, sebab ada lobang lobangnya, tanah yang digunakan bawahnya juga dari hasil galian,”

Sehingga, saat ini pekerjaan itu masih tahap pemeliharaan tanggungjawab rekanan. “Pemeliharaan satu tahun sampai akhir desember 2020. Kami tim sudah turun kroscek ke lokasi,” ucapnya.

Ditanya titik lain amblas itu yang lebih rendah dari cor yang sebelumnya, Erik berdalih karena air. “turun hanya paling 2 CM sampai 3 cm tidak sampai 7,” dalihnya.

(Asm/Red)

banner 336x280

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *