banner 728x90

Menuju Generasi Indonesia Emas 2045, Bupati Sumenep Dorong Pencegahan Stunting

Menuju Generasi Indonesia Emas 2045, Bupati Sumenep Dorong Pencegahan Stunting


SUMENEP, (TransMadura.com) – Upaya menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045 tidak dapat menunggu anak tumbuh besar. Khususnya Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, pencegahan stunting didorong dimulai sejak masa kehamilan dengan memastikan keluarga mendapat pendampingan hingga anak melewati masa awal pertumbuhan.

Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo mengatakan, stunting tidak semata persoalan kesehatan. Persoalan tersebut berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia yang akan menentukan masa depan daerah dan Indonesia.

banner 728x90

“Stunting bagi kami sesungguhnya menjadi konsen penting, karena ini merupakan bagian dari gambaran masa depan bagaimana anak-anak cerdas kita siapkan untuk generasi 2045,” kata Fauzi, Senin (21/9/2026).

Menurut Fauzi, intervensi terhadap stunting tidak seharusnya dimulai ketika gangguan pertumbuhan telah terjadi. Pendampingan perlu dilakukan sejak ibu menjalani kehamilan, berlanjut setelah persalinan dan masa menyusui, hingga bayi dan balita.

Pendekatan tersebut membuat pencegahan stunting tidak bisa hanya dibebankan kepada sektor kesehatan. Kader, tenaga penyuluh, tenaga kesehatan, pemerintah desa, serta Tim Pendamping Keluarga (TPK) memiliki peran dalam memastikan keluarga memperoleh informasi, layanan, dan pendampingan yang dibutuhkan.

Penguatan kerja lintas sektor itu menjadi salah satu pembahasan dalam pertemuan Pemerintah Kabupaten Sumenep dengan Perwakilan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN Jawa Timur.

Baca Juga :   Akses Jalan Kepulauan Kangean Nyaman, Bupati Sumenep Dapat Pujian Warga

Pertemuan tersebut membahas penguatan Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana), pelayanan keluarga berencana, serta percepatan penanganan stunting.

Di balik target tersebut, Sumenep masih menghadapi persoalan kapasitas pendampingan di lapangan.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Timur Shodiqin mengatakan, Kabupaten Sumenep memiliki 27 kecamatan, tetapi hanya sekitar 21 tenaga Penyuluh Keluarga Berencana (PKB)/Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB).

Dengan jumlah itu, rata-rata seorang penyuluh harus menjangkau sekitar 17 desa. Angka tersebut jauh lebih luas dibandingkan kondisi ideal yang disebut BKKBN, yakni satu penyuluh membina sekitar dua desa.

Bahkan, masih ada kecamatan yang belum memiliki tenaga penyuluh.

Keterbatasan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena keberhasilan program kependudukan, keluarga berencana, dan pencegahan stunting sangat bergantung pada kemampuan menjangkau keluarga hingga tingkat paling bawah.

BKKBN karena itu mendorong keterlibatan perangkat daerah, tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader KB, serta unsur terkait untuk menutup keterbatasan tenaga penyuluh.

“Tujuan kami tentunya memohon dukungan dan komitmen untuk menyukseskan program-program Kemendukbangga/BKKBN di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Sumenep,” ujar Shodiqin.

Selain persoalan tenaga pendamping, BKKBN menyoroti realisasi anggaran program keluarga berencana di Sumenep.

Dari alokasi sekitar Rp 7 miliar, realisasi anggaran hingga audiensi tersebut berlangsung baru sekitar Rp 1,6 miliar atau 27 persen.

Baca Juga :   Merah Putih Menyala di Jembatan Karang, TNI dan Warga Selesaikan Harapan Bersama

Anggaran tersebut antara lain digunakan untuk mendukung pelayanan keluarga berencana, percepatan penurunan stunting, serta pendampingan keluarga sasaran melalui kader Tim Pendamping Keluarga.

Shodiqin berharap pemerintah daerah dapat mengoptimalkan penggunaan anggaran tersebut hingga akhir tahun dengan tetap mengikuti ketentuan yang berlaku.

Harapan kami, realisasi anggaran tersebut dapat dioptimalkan sehingga pada akhir tahun anggaran dapat mencapai realisasi yang maksimal, dengan tetap memperhatikan ketentuan dan regulasi yang berlaku,” katanya.

Persoalan stunting dengan demikian tidak berhenti pada seberapa besar anggaran yang disiapkan atau berapa banyak program yang dibuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan program tersebut benar-benar sampai kepada keluarga yang membutuhkan.

Keterbatasan penyuluh dan masih rendahnya realisasi anggaran menunjukkan bahwa kualitas pelaksanaan menjadi bagian penting dari agenda pencegahan stunting di Sumenep.

Bagi Fauzi, investasi terhadap anak harus dimulai jauh sebelum persoalan pertumbuhan muncul. Pendampingan sejak kehamilan menjadi salah satu pintu masuk untuk memastikan anak tumbuh sehat sekaligus memiliki fondasi yang lebih baik untuk memasuki masa depan.

“Stunting bagi kami sesungguhnya menjadi konsen penting,” kata Fauzi.

(Red)

banner 336x280