SUMENEP, (TransMadura.com) –
Tembakau menjadi tanaman turun temurun sejak ratusan tahun silam. proses budaya yang berkembang tanaman tembakau mendatangkan mamfaat segi ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat.
Sehinga tanaman tembakau dianggap budaya turun temurun kalau tidak tanam tembakau tidak akan mendapatkan hasil yang besar.
Namun, di era jaman semakin canggih, sedikit demi sedikit budaya itu mulai akan tergerus dengan perkembangan jaman teknologi, petani tembakau mulai berkurang, mulai merasakan dan bisa menghitung untung ruginya bertani.
Buktinya, Tanaman tembakau tahun 2020 di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, berkurang dari tahun sebelumnya. Pasalnya, selain tembakau petani mengambil tanaman alternatif, yakni tanaman Holtikultura.
“Sebagian petani tahun ini mengambil tanaman alternatif selain tembakau,” kata Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (Dispertahortbun) Kabupaten Sumenep, Arif Firmanto, kepada media ini.
Kadis yang energik ini menyampaikan, sebab mengambil jalan tanam alternatif tersebut, karena kelesuan akibat pandemi covind-19, dan pengambilan kuota pabrikan berkurang. “Kenaikan cukai pada tahun ini juga menjadi salah satu alasan pabrikan untuk mengurangi kuota bembelian, akhirnya petani mencari tanaman alternatif,” ungkapnya.
Sehingga, lanjut Arif, petani saat ini, yakni di Kecamatan Guluk-Guluk, tanaman alternatif selain tembakau, yakni, Tanaman Kubis, Bawang merah, Kecamatan Pragaan dengan Tanaman Pisang dan di kecamatan rubaru, yang biasanya hamparan tembakau, kini sudah banyak ditanami tanaman cabe. serta kecamatan lainnya dengan melon, semangka, serta kacang hijau dan kacang tanah.
“Petani sekarang sudah semakin semakin cerdas, makin pintar dan semakin menyadari bahwa potensi pola berfikir akan tanaman yang lebih menguntungkan selain tembakau, bukan berniat mau menghilangkan karakter budaya tanam tembakau, tapi hanya mengurangi tanaman dikarenakan kondisi, kalau dipaksakan tanam tembakau, kasihan juga petani kalau merugi,” Ungkapnya.
Arif menuturkan, dimana kita ketahui, kalau kebutuhan sedikit dan ketersediaan banyak maka hukum ekonomi pasti berjalan,” ucapnya.
“Mindset atau pola pikir masyarakat sudah semakin cerdas, akan tanam apa yang bisa meghasilkan dan mengalihkan komoditas penanaman untuk di budidayakan,” ujar Arif.
Sehingga, Petani di Sumenep saat ini, jelas Arif, sudah bisa menghitung untung ruginya budidaya komoditas, selain tanaman tembakau. “kita hanya mengimbau saja kepada petani dan petani sendiri yang menentukan pilihan tanamannya dan kami selalu akan tetap mendampingi dan mengawal pilihan tanaman petani pada tanaman yang menghasilkan,” paparnya.
Sementara, kesadaran dan kecerdasan petani dengan mengambil tanaman alternatif selain tembakau, tegas Arif, pemerintah tidak hanya tinggal diam, dan mengimbangi dengan mencari pangsa pasar, semisal tanaman cabe sudah mempunyai trobosan mendaya gunakan pengusaha home industri, dengan membuat sambel serta abon cabe dengan berbagai varian rasa.
“Ini juga akan kerjasama dengan Transmart dan sebagainya kita sudah lakukan,” seperti Camilan Banana Chips Erdan, Mente, Rengginang Bluto, Snack Mie jagung Saronggi, Kripik Singkong Manding dan lainnya, tutur Kadis yang penuh dengan semangat ini.
Selain usaha yang telah dilakukan tersebut, Pemerintah melalui Dispertahortbun Pada Tahun 2020 ini, telah melakukan berbagai upaya di dalam membantu khususnya petani tembakau.
“Upaya tersebut antara lain dengan memberikan bantuan untuk peningkatan kualitas bahan baku seperti : bantuan bibit tembakau, bantuan pupuk NPK, fertila spesial tembakau, Pelaksanaan Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT), bantuan alat perajang tembakau, dan bantuan alat angkut pasca panen.
Selain memberikan bantuan Dispertahortbun juga telah melakukan dan menjalin Kemitraan dengan PT. Djarum Kudus untuk pembelian hasil panen dari petani tembakau. Sehingga, petani nantinya dan beberapa hari yang lalu juga mengupayakan salah satu alternatif, yaitu dengan mencari pangsa pasar baru untuk pemasaran hasil tembakau selain untuk kebutuhan Pabrik Rokok (diversifikasi produk tembakau) dengan menjalin kerjasama dengan investor asing.
“Kami tidak hanya berhenti disitu, perjuangan dalam membantu petani tembakau ini juga dilakukan tanpa mengenal lelah, kami sudah turba ke lapangan lahan petani tembakau dengan Grader dari PT. Djarum Kudus, disana kita mengedukasi petani bagaimana cara pemeliharaan, budidaya sesuai GAP dan tata cara pemangkasan tembakau yang benar.
“Hari senin –selasa tanggal 10 -11 Agustus 2020 kita juga akan melakukan bimbingan teknis tentang budidaya tembakau mulai dari hulu sampai hilir, baik kepada PPL dan Petani sehingga dapat mengawal kualitas tembakau sesuai dengan kebutuhan pabrik,” tutup Arif dengan penuh semangat.
(Asm/Red)