SUMENEP, (Transmadura.com) — Proyek Pembangunan tambat labu Dinas Perhubungan Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang berlokasi di Dusun Tanah Merah, Desa Campor Barat, Kecamatan Ambunten, diduga asal – asalan. Buktinya, dari kondisi fisik pelaksanaan tampaknya sudah hancur berantakan dari sisi pondasi.
Dari hasil investigasi/ pantauan Lembaga Anti Korupsi (Laki) bahwa, pembangunan tersebut dikerjakan oleh kontraktual CV sampai saat ini belum diketahui nilai anggaran yang bersumber dari anggaran APBD 2017.
“Samapai saat ini belum diketahui nilai besar anggaran itu berapa, karena tidaka ada papan nama,” kata tim Investigasi Laki Bambang Supratman, selasa (12/12/2017).
Ia memaparkan, proyek pembangunan tambat laut yang diduga asal – asalan itu, diduga kurang selektif pemerintah daerah dalam menempatkan pembangunan.
“Pemerintah daerah kurang selektif menempatkan pembangunan tambat labu itu,” ungkapnya.
Atas pengaduan masyarakat setempat, menurut bambang, pembangunan tidak ada mamfaat bagi warga, namun terkesan hanya dijadikan tempat anak muda pacaran.
“Sebetulnya masyarakat menolak dengan pembangunan tersebut, dianggap tidak ada mamfaatnya, karena tidak ada perahu yang berlabu disitu, malah hanya dijadikan tempat pacaran,” tuturnya.
Kendati demikian, dari hasil kajian, laki akan menyoal permasalah tersebut, karena disinyalir banyak kejanggalan.
“Saya akan menyoal Dinas Perhubungan Sumenep, biar mereka dalam perencanaan anggaran tepat sasaran dan bisa dinikmati oleh masyarakat. Uang rakyat itu,” tegasnya.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Sumenep Sustono tidak banyak komertar dengan kerusakan pekerjaan tambat labuh tersebut.
“Kalau soal itu mas agus yang tau, karena mereka bagian PPKo, itu bagian tehnis tau,” katanya saat dihubungi lewat telefon genggamnya.
Namun, Sustono menjelaskan kerusakan bisa saja terjadi karena faktor alam. “Itu bisa saja karena ombak atau angin puting beliaung basa saja faktor itu. Kalau benar itu nanti saya suruh perbaiki sama kontraktornya, karena masih tahap pemeliharaan,” jelasnya, selasa (12/12/2017).
Ditanyak soal pembangunan tidak tepat sasaran sustono mengaku, itu hanya versi masyarakat, tidak akan semua orang itu menganggap tidak tepat sasaran.
“Tak mungkin semua masyarakat menilai pekerjaan salah sasaran, kan dari berbagai dusun juga ada yang setuju,” tandasnya. (Asm)