Berita  

Yuk! Nongkrong di “Kembang Kopi” dan Khas Makanan Nuansa Alam di Desa Lalangon Sumenep

SUMENEP, (TransMadura.com)
Tidak susah mencari tempat nongkrong dan tempat makan dijumpai di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Setiap tahun perkembangannya bisa dibilang cukup pesat.

Tidak hanya di pusat kota, tempat nongkrong dan tempat makan banyak berkembang di daerah pedesaan, dan condong lebih banyak disukai meski fasilitas yang disediakan tidak semewah tempat yang ada di perkotaan.

Salah satu penyebabnya karena lokasi di pedesaan memiliki nuansa alami dan asri, seperti rumah makan “Kembang Kopi”. Tempat nongkrong dan rumah makan ini bisa dibilang baru dirintis, yakni awal tahun 2021 lalu.

Meski lahir ditengah Pandemi Covid-19, namun rumah makan yang berdiri di Desa Lalangon, Kecamatan Manding, Sumenep ini menjadi salah satu pilihan masyarakat. Setiap hari selalu ramai pengunjung, tidak hanya kalangan pemuda dan remaja, orang dewasa juga tampak senang dan betah berada di warung yang dirintis oleh Cak Yoyok itu.

Selain tempatnya yang cukup strategis dan mudah dijangkau, desain rumah makan yang unik, juga pemandangan disekitarnya masih sangat alami. Itulah salah satu alasan pengunjung betah saat berada di omah Kembang Kopi ini.

Baca Juga :   Kasdim 0827/Sumenep Lepas Keberangkatan Liga Santri Dengan Penuh Semangat dan Doa

“Nuansa alam Pedesaan menjadi ciri khas rumah makan ini,” kata Cak Yoyok pada media ini.

Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa menikmati fasilitas lain yang disediakan pengelola. Seperti musik, karaoke, musholla hingga kamar kecil ala modern.

Beraneka ragam menu makanan:

Banyak menu makanan dan minuman yang bisa dinikmati, harganya cukup representatif dan cocok bagi semua kalangan. Disana menyediakan Ayam Bakar dan Pecel Magetan dengan harga yang cukup mudah, yakni antara Rp7 ribu hingga Rp 20 ribu perporsi.

Beraneka jenis minuman juga tersedia, pengujung tinggal milih sesuai selera yang bisa menemani saat bersantai. Mulai dari yang dingin hingga kopi hangat tersedia. Harga yang ditawarkan cukup murah, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp6 ribu. Sehingga tempat ini sangat cocok sebagai tempat santai bersama keluarga atau kerabat dekat.

“Kami ini sengaja menyajikan keindahan alam Desa sesuai dengan tempat usaha kami,” jelas Cak Yoyok, seperti dilansir harianjatim.com.

Menurutnya, pembangunan usaha saat ini tidak hanya berfikir mengenai bisnis to bisnis, melainkan juga sebagai edukasi pentingnya pembangunan ekonomi pedesaan. Harapannya para kaula muda kedepan bisa sadar akan potensi desa dan bisa mengembangkan sesuai keahlian masing-masing.

Baca Juga :   98 Hewan Kurban Disalurkan Said Abdullah Bersama Yayasan Fatimah Bin Said Gauzan dan DPC PDI Perjuangan

Jika ini tercapai, Cak Yoyok memiliki keyakinan bisa berdampak pada kemajuan desa dan bisa membuka lapangan pekerjaan baru.

Kedepan Cak Yoyok terus akan melakukan pembenahan atas usaha yang dilakukan. Bahkan di memiliki cita-cita agar usaha yang dikeluti bisa memiliki daya saing dengan bisnis yang ada di perkotaan yang serba modern. “Jangka panjangnya kami ingin membangun bisnis di desa dengan pola modern,” tegasnya.

Cak Yoyok menyadari untuk membangun usaha itu sangat mudah, namun untuk mempertahankan dan mengembangkan penuh perjuangan. Namun, kesulitan dan berbagai rintangan bagi dia bukan sebuah halangan untuk melakukan perubahan, melainkan itu adalah tantangan yang harus dilewati untuk menuju kesuksesan yang abadi.

“Lewati proses penuh perjuangan dan keyakinan. InsyaAllah akan ada hasilnya,” kata Cak Yoyok dengan nada santai penuh motivasi.

(Asm/red)