SUMENEP, (TransMadura.com) –
Sungguh memperihatinkan, Rifqi Riyanto (5,5), warga Dusun Parebbaan, Desa Bragung, Kecamatan Guluk-guluk, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, terlihat tersiksa hidupnya dengan menderita Hydrocephalus sejak ia lahir atau selama 5,5 tahun.
Kondisi anak ini semakin hari penyakit yang dideritanya terlihat menyiksa setiap malam sering kambuh selalu menangis.
Mirisnya, mereka hidup berdua bersama Ibunya, Munah (30) yang ditinggal suaminya sejak beberapa tahun yang lalu dan kini di Kartu Keluarga (KK) nya hanya tinggal berdua dengan anaknya.
Namun, yang sangat mirisnya, mereka selama 5,5 tahun tidak pernah mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH) ataupun bantuan lainnya.
Padahal, kalau melihat kondisi rumah dibilang orang tidak mampu, dengan sebagian dinding terlihat bolong, begitu juga sebagian atap rumahnya yang terbuat dari genteng sedikit ada yang bocor.
Di teras rumah, ada ranjang terbuat dari bambu sebagai tempat santai. Disitulah, Rifqi Riyanto pada waktu siang tergolek.
Munah, hanya bisa pasrah. Kedua tulang kaki anaknya kaku dan mengecil hingga tak mampu lagi bergerak. Bahkan, akibat penyakit yang menyerangnya membuat kedua telapak kaki Rifqi Riyanto menghitam.
Setiap hari, rasa sakit yang ia rasakan tak mengenal waktu selama bertahun-tahun. Sesekali Munah mengaku harus membawa anaknya ke dokter. Dan itu membutuhkan dana yang cukup besar baginya. Sebab, setiap masuk rumah sakit, Rifqi Riyanto harus rawat inap.
Saat ditemui media ini di kediamannya, Minggu (29/4/2018), Rifqi sedang meringis kesakitan dan digendong oleh ibunya. Saat itu, ia didampingi neneknya dan saudara ibunya, Maelah.
Di tempat tidurnya, Rifqi hanya bisa terbaring lemah. Sebuah pernyataan mengharukan terdengar bahwa dia ingin segera sembuh dari penyakitnya dan ingin sekolah.
“Sudah 5,5 tahun anak saya menderita sakit ini. Siang dan malam saya tak bisa tidur. Kadang tengah malam anak saya minta sesuatu sambil menangis, dan itu harus dituruti,” tutur Munah.
Faktor ekonomi menjadi penyebab Rifqi kesulitan untuk mendapat perawatan medis maksimal. Bahkan Munah mengaku harus kerja ke Provinsi Bali untuk membiayai anaknya.
Ia tak punya keluarga yang bisa diandalkan untuk meringankan beban hidup. Sehingga dirinya harus bekerja banting tulang untuk menafkahi dan merawat anaknya.
“Kadang anak saya satu bulan dua kali masuk rumah sakit, dan biayanya harus mencari sendiri banting tulang,” katanya.
Munah menceritakan, Rifqi mengidap penyakit tersebut sejak baru lahir.
Untuk menyembuhkan anaknya, segala usaha sudah dilakukan, termasuk dengan berbagai obat tradisional.
“Ya, mau bagaimana lagi. Harta juga enggak ada. Sekarang kami pasrah saja, walaupun kami tidak menerima bantuan,” tuturnya.
Namun, pihaknya sangat mengharapkan apabila ada bantuan baik dari pemerintah, atau dari orang yang murah hati untuk berbagi. Karena bantuan itu dibutuhkan untuk biaya pengobatan anaknya yang telah dirasakan selama 5,5 tahun.
“Saya hanya butuh biaya pengobatan saja. Saya kasihan anak saya merasakan sakit dan selalu menangis setiap malam,” harapnya.
Reporter : Asm