Transmadura.com, Sumenep – Badan Penanggulangan Bencana Daearh (BPBD) Sumenep, Jawa Timur mencatat kerugian material akibat bencana alam sejak awal tahun 2017 mencapai Rp900 juta lebih. Dana ratusan juta itu bersumberkan dari dana tak terduga yang telah disediakan oleh pemerintah kabupaten (Pemkab) setempat.
Kepala Seksi Kedaruratan BPBD Sumenep Achmad Faruk menjelaskan kejadian yang terjadi sejak awal januari tahun 2017 merupakan bencana lebih besar dibandingkan tahun yang lalu. Per 30 Januari 2017 mencapai 81 bencana alam dengan taksiran kerugian material hampir satu miliar.
”Bencana saat ini memang lebih besar dari pada tahun yang sebelumnya,” katanya
Menurutnya, lokasi bencana dari awal tahun hingga pertengahan februari ini menyebar di 50 lokasi di 11 Kecamatan, yakni Kecamatan Gapura, Bluto, Rubaru, Batuan, Batuputih, Lenteng, Ambunten, Arjasa Pulau Kangean, Nonggunong Pulau Sapudi, dan Kecamatan Pragaan.
“Sesuai data, kerusakan terbesar akibat angin puting beliung, selebihnya longsor dan banjir,” jelasnya.
Menurutnya, semua bencana yang tercover akan diberikan bantuan, pemberian bantuan itu sesuai dengan perbub nomor Tahun 2013 Tentang Pemberian Bantuan Bencana dibagi menjadi tiga kriteria, yakni kerusakan infra struktur, alat transportasi laut, sperti perahu dan juga kapal.
Sedangkan yang ketiga merupakan bantuan pendidikan non pemerintah seperti lembaga pendidikan swasta, mushalla dan juga masjid.
Sementara, bantuan yang dapat, untuk kerusakan infra struktur seperti rumah roboh, jika rusak ringan (RR) mendpatkan Rp 1 juta, rusak sedang (RS) Rp 1,5 juta, rusak berat (RB) Rp 2 juta sedangkan rusak total (RT) Rp 2,5 Untuk kriteria bantuan bagi alat transportasi laut nedapatkan bantuan, RS 500 ribu, RB 750 ribu, RT 1 juta. Sementara untuk banutan bencana untuk pendidikan non pemerintah, RR 2,5 juta, RS 5 juta, RB 7,5 juta, RT 10 juta. ”Banutan itu kami berikan secara maksimal, sedangkan minimalnya kami tidka bisa memprediksi, sebab akan disesuaikan dengan tingkat kerusakan yang ada,” tegasnya. (Asm/hy).